Jumat, 02 Agustus 2013

Book Review : Sepotong Senja Untuk Pacarku



Sukab memang keterlaluan. Demi Alina, orang yang dicintainya, ia nekat memotong senja dengan pisau swiss-nya lalu mengirimkannya pada kekasihnya itu lewat Pos. Akibatnya, ia dikejar-kejar polisi setelah dunia gempar karena telah kehilangan senja. Sialnya lagi tukang Pos yang mengantarkan senja itu tak cukup amanah sehingga senja itu harus tertunda sampai sepuluh tahun untuk akhirnya sampai ke tangan Alina. 

Kalau anda menganggap Sepotong Senja untuk Pacarku sebagai sebuah percintaan gombal ala-ala anak SMA, berarti anda telah tertipu oleh judulnya. Kalau anda juga berfikir buku ini hanya berkisar tentang kisah Sukab memperjuangkan cintanya pada Alina dengan konflik-konflik model sinetron-sinetron Indonesia, oh... anda sudah keliru besar. 

Terdiri dari 13 cerita pendek yang bisa dengan bebas kita nikmati entah itu sebagai potongan kisah yang berdiri sendiri-sendiri ataupun sebagai sebuah kesatuan utuh yang saling berkaitan, Seno Gumira Ajidarma sedang mengajak kita memasuki sebuah dunia baru yang ia ciptakannya. Dunia yang absurd, aneh dan unik. 

Keliaran imajinasi ala SGA, membuat tema-tema sederhana yang diangkatnya terasa menarik dan tidak membosankan. Cerita seorang pria yang mencintai seorang wanita sudah biasa. Tapi ketika si pria nekat mencuri senja untuk membuktikan cintanya, tentu ini jadi tak biasa bahkan tak masuk akal. Tapi ini bukan dunia biasa. Ini dunia ciptaan SGA (saya menyebutnya dunia Sukab) dan hal itu bisa-bisa saja terjadi. 

Begitupun dalam cerita Hujan, Senja dan Cinta. Tentu cerita seseorang lelaki yang setia pada wanita yang dicintainya meski wanita itu sudah menikah dengan lelaki lain terdengar klise. Tapi jika kemudian kesetian itu berwujud dengan hujan yang selalu mengikuti kemanapun si wanita pergi hingga membuatnya jengkel sendiri, saya bisa jamin ini bukan tema pasaran. Tidak masuk akal? Ya. Tapi inikan dunia Sukab. Semua sah-sah saja. 

Meski judulnya agak gombal, namun sebenarnya buku ini bukan kumpulan kisah romance. Praktis hanya dua cerita yang boleh dibilang romantis (Sepotong Senja untuk Pacarku dan Hujan, Senja dan Cinta). Sisanya justru tidak menyuguhkan kisah-kisah romantis. Beberapa seperti cerpen Kunang-Kunang Mandarin malah berbicara tentang sesuatu yang mengerikan. Bahkan cerpen Jawaban Alina (balasan Alina atas senja yang dikirimkan Sukab) justru bercerita tentang musnahnya umat manusia. 

Absurd. Mungkin itulah kesan yang akan anda rasakan begitu selesai membaca buku ini untuk pertama kali. Tapi surealisme khas SGA ini berhasil hadir dengan gurih dan cukup ringan. Sebagian memang akhirnya tetap terasa berat dan sulit untuk dimengerti. Tapi tekhnik penceritaannya yang memikat, membuat kita tetap bisa menikmatinya dari awal hingga akhir. 

Kalau anda selama ini cuma terbiasa dengan cerita-cerita teenlit, mungkin akan terbengong-bengong dengan keanehan dan segala hal tak masuk akal dalam cerita di buku ini. Tapi kisah-kisah di Sepotong Senja untuk Pacarku memang tidak untuk dibenturkan dengan logika. Nikmati saja, sambil sedikit-sedikit cobalah maknai metafora-metafora di dalamnya. Setidaknya anda mungkin jadi bisa setuju dengan saya bahwa dunia yang sempit ini tidak cukup untuk membatasi imajinasi manusia. 

Rate: 4/5 

Judul buku : Sepotong Senja untuk Pacarku 
Pengarang : Seno Gumira Ajidarma 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit : Januari 2002 
Jumlah Halaman : 218 

Daftar isi : 
– Sepotong Senja untuk Pacarku 
– Jezebel 
– Ikan Paus Merah 
– Kunang-kunang Mandarin 
– Rumah Panggung Tepi Pantai 
– Peselancar Agung 
– Hujan, Senja dan Cinta 
– Senja Hitam Putih 
– Mercusuar 
– Anak-anak Senja 
– Senja yang Terakhir 
– Jawaban Alina 
– Tukan Pos dalam Amplop

5 komentar:

  1. Review yg kereeen.
    Salam kenal.

    BalasHapus
  2. Aku udah baca, sekarang lagi baca dan itu sungguh membuat ku berpikir keras tentang senja dalam buku tersebut

    BalasHapus