Selasa, 02 Oktober 2012

Kegilaan Yang Mendarah Daging


Saat final sepak bola Sea Games kemarin, saya pertama kalinya merasakan pengalaman mengikuti acara nonton bareng. Selama ini, saya terbilang enggan untuk ikut-ikutan nonton bareng. Alasannya memang selain kenyamanan, juga karena keterbatasan jarak pandang mata saya yang memang sudah tidak sempurna namun tetap ngotot tidak mau memakai kacamata. Namun kehadiran empat orang oknum teman yang memaksa saya untuk ikut akhirnya membawa saya meninggalkan kenyamanan dan ketenangan menonton bola di rumah, dan duduk ditengah kumpulan orang-orang yang seluruh matanya terpaku pada sebuah layar super lebar.

Acara nonton bareng ini tentu bukan hanya ada di tempat saya menonton. Hampir di semua kafe layar-layar besar terpancang, menandakan disana juga mengadakan acara nonton bareng yang serupa. Orang-orang yang datangpun membludak, memenuhi kafe untuk menyaksikan laga perebutan mendali emas Sea Games cabang sepak bola itu.

Lalu kemudian, sebuah pertanyaan iseng hadir di benak saya. Apakah segala kehebohan menyambut pertandingan final ini juga terjadi di Malaysia, negara yang jadi lawan kita di final itu? Ah... saya tidak bisa menjawabnya dan juga tidak punya referensi untuk mencari tahu mengenai itu lebih jauh.



Satu-satunya hal yang bisa saya bilang adalah bahwa bangsa ini punya kegilaan yang luar biasa terhadap sepak bola. Kegilaan yang saya percaya belum tertandingi oleh negara manapun di kawasan Asia Tenggara. Kafanatismean kita mungkin hanya bisa kita jumpai di beberapa negara lain yang mempunyai fanatisme yang sama dahsyatnya macam Iran, Mesir, Turki atau negara-negara sepak bola macam Brazil dan Argentina. Kegilaa kita yang luar biasa itu malah terkadang sulit untuk difahami karena bagaimanapun, Brazil dan Argentina pernah juara dunia, Iran dan Turki juga berkali-kali tampil di pentas tertinggi Sepak Bola sejagat itu, bahkan Mesir yang masih kesulitan lolos Piala Dunia adalah penguasa sepak bola Afrika, sementara Indonesia, hanya untuk sebuah prestasi sederhana setingkat Asia tenggara sekalipun belum juga mampu kita raih hingga kini.

Di negeri saya yang gila dan sangat gila sekaligus tergila-gila pada Sepakbola, anda akan menemukan betapa permainan ini tidak hanya sekedar olah raga 22 orang yang sedang rebut-rebutan bola. Sepak bola adalah harga diri dan kejayaan. Ia telah menjadi bagian idientitas yang tidak bisa dilepaskan dari sebagian besar orang Indonesia.

Di negeri ini, orang-orang rela bergadang seminggu sekali hanya untuk menonton pertandingan sebuah tim yang seharusnya sama sekali tidak punya ikatan emosional dengan mereka. Di Maluku, sekelompok orang membakar bendera Jerman, setelah Tim Panser itu menekuk Argentina saat Piala Dunia 2010 kemaren. Kala Inter Milan menjadi juara Liga Champions Eropa tahun 2010 kemaren, beberapa teman sampai mengajak saya ikut pawai berkeliling Pontianak subuh-subuh buta untuk merayakan gelar juara yang memang sudah ditunggu puluhan tahun oleh klub kota mode tersebut. Tidak perduli meski Pontianak dan Milan sama sekali tidak ada dekat-dekatnya dan mirip-miripnya sedikitpun.

Itu malah belum seberapa. Anda jangan heran jika kemudian mendengar bahwa sebagian suporter Sepak bola negeri ini punya kegilaan dan fanatisme yang bisa jadi membuat anda terkagum-kagum sekaligus geleng-geleng kepala tidak percaya.

Lihat saja seseorang yang di Bandung akrab dipanggil Ayi Beutik. Saking cintanya ia dengan Persib, ia sampai memberi nama putra sulungnya dengan nama : Jayalah Persibku. “Persib telah memberi saya segalanya,” ujar pria yang mengaku meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang staff ahli pemetaan hanya untuk menjadi pendukung setia Persib Bandung.

Atau seperti Heru Joko, salah seorang suporter fanatik Persib lainnya. Ia tetap saja mempertaruhkan sejumlah uang untuk kemenangan Persib, walau lawan yang akan dihadapi adalah AC Milan yang sedang merajai Eropa dengan trio Belanda legendarisnya dalam sebuah laga persahabatan dimusim panas tahun 1994.

Irlan adalah contoh lain kegilaan pada sepakbola nasional. Aktifis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengaku telah menyerahkan hidupnya di jalan agama. “Tapi seperti Rasul, jalan agama bukan berarti harus melupakan dunia. Artinya gue gak mungkin meninggalkan Persija,” tukas pria berusia 30 tahun yang mengaku hanya mempunya tiga hal penting dalam hidupnya “PKS, Persija dan Manchester United!!!”

Pria keturunan Arab ini adalah salah satu contoh supporter fanatik dari klub Persija Jakarta. Kehidupan sehari-harinya dijalani sebagai seorang pegawai di restoran waralaba asing. Ia pun dikenal sebagai seorang da’i sekaligus kader dari PKS yang dikenal sebagai partai islam berbasiskan pengajian-pengajian. Tapi jika sudah turun di stadion, Irlan bagai berubah total. “Kalau tim kita main, gak ada supporter lawan boleh rese’!” tegasnya. Jika ada yang berani macam-macam, ia akan berdiri paling depan menghantam lawan, jika perlu sampai terkapar kelojotan.

Secara kasat mata, kita semua bisa melihat kegilaan itu terefleksi kala stadion Gelora Bung Karno selalu saja penuh tiap kali sebelas lelaki dengan garuda di dadanya turun bertanding. Kegilaan yang berpadu dengan kehausan akan prestasi yang bahkan tidak jarang berakibat sangat fatal. Final Sea Games kemarin yang merenggut dua nyawa suporter Indonesia adalah satu diantaranya.

“Delapan puluh persen orang Indonesia suka Sepakbola, lima puluh persen diantaranya rela mati karenanya!” begitulah salah seorang pengamat sepak bola tanah air menggambarkan permainan yang begitu dicintai ini.

Jika masih perlu bukti fanatisme ini, anda boleh liat bagaimana para Bonek dari Surabaya bisa membanjiri Jakarta yang jaraknya kurang lebih 1200 km atau setara Paris-Muenchen hanya dengan modal sekitar 10 ribu rupiah atau kurang dari 1 Euro. Anda juga tidak perlu jauh-jauh menyaksikan Spurs-Arsenal untuk belajar apa itu rivalitas, cukup pergi ke Bandung, nonton Persib lawan Persija dan lihat apa yang terjadi.

Ah... Rasanya cukup sudah sekian kisah tadi menggambarkan betapa kegilaan sebagian besar orang di republik ini pada sepak bola sudah sangat mendarah daging. Kegilaan yang sejatinya menyimpan potensi komersialisasi super besar yang jika dikelola dengan benar bukan tidak mungkin menjadikan sepak bola Indonesia sebuah industri yang tidak kalah dahsyat dengan Jerman, Italy, Spanyol atau bahkan Inggris.

Namun entah mengapa sepak bola kita tidak pernah benar-benar bisa melangkah maju. Ketua PSSI yang baru telah dipilih. Komite Eksekutif PSSI-pun telah dibentuk. Tapi awan mendung seolah tidak mau pergi dari dunia sepak bola Indonesia. Beberapa kebijakan kontroversial dari pengurus PSSI yang baru ini, membuat sebagian pecinta bola tanah air (termasuk saya) jadi berfikir bahwa kini setelah lepas dari mulut buaya, sepak bola Indonesia justru terjerembab ke dalam mulut singa.

Dualisme kompetisi yang kian kusut dan rumit ini adalah hasil dari kegagalan rekonsiliasi kubu-kubu di dalam PSSI yang selama ini bertikai. Terlebih, nampak jelas kepengurusan PSSI yang baru ini, sangat kental dengan aroma kelompok-kelompok tertentu sehingga dengan gegabah mengacak-acak sistem kompetisi yang sudah ada, guna mengakomodir kepentingan kelompoknya. Semakin parah karena di dalam internal PSSI sendiri pun mulai terjadi perpecahan.

“Sepak bola adalah refleksi sebuah bangsa!” ujar Franz Beckenbauer. Kaisar sepak bola jerman itu memang tidak salah. Segala carut-marut ditubuh PSSI dan dualisme kompetisi ini adalah cerminan betapa juga carut-marutnya bangsa ini secara keseluruhan. Segala hiruk pikuk yang kita saksikan ini terasa sangat tidak asing, karena memang ini jugalah yang akrab kita tonton tiap hari selalu terjadi di ruang kerja kabinet dan gedung parlemen.

Ada segepok pekerjaan rumah yang harusnya segera diperbaiki oleh seluruh stakeholder sepak bola terutama PSSI. Pembinaan usia muda, kompetisi yang profesional, industrialisasi sepak bola, dan pada akhirnya tentu saja meraih prestasi adalah sekian banyak tugas yang harusnya segera di tuntaskan oleh federasi tertinggi sepak bola tanah air tersebut. Tapi bukannya mencoba serius untuk membenahi itu semua, mereka malah terlalu sering menghabiskan energi bertikai untuk hal-hal tidak penting atas nama ego dan kepentingan.

PSSI bukan milik segelintir orang. PSSI adalah milik seluruh klub sepak bola nasional. PSSI adalah milik seluruh pengila sepak bola tanah air. PSSI adalah milik Aremania, Jakmania atau apapun itu kelompok supporter di Indonesia. Dan PSSI adalah milik seluruh bangsa Indonesia.

Hari ini, sepak bola Indonesia sedang berada dalam masa tersuramnya. LPI yang dahulu menjadi simbol perlawanan namun kemudian tiba-tiba saja dibubarkan tanpa kejelasan, kini malah saya anggap sebagai blunder terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Dan seperti yang saya yakini sebelumnya, turunnya Nurdin Halid memang bukanlah segalanya. Bahwa sepak bola Indonesia hanya bisa maju dengan sebuah revolusi sistem dan mekanisme bukan lewat kudeta seorang ketua.

Sekali lagi, kegilaan kita yang mendarah daging pada permainan luar biasa ini, harusnya menjadi energi besar untuk memajukan sepak bola Indonesia. Bahwa sepak bola adalah alat efektif untuk membuat negeri ini bangga dan bahagia. Bahwa sepak bola ini bukan lagi sekedar permainan 22 orang yang sedang rebut-rebutan bola, tapi juga tidak jarang menyangkut persoalan harga diri dan kejayaan. Dan harusnya pengurus PSSI bisa memahami semua itu.